Manajemen Bimbingan dan Konseling

BKBAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Bimbingan dan konseling merupakan salah satu komponen dalam keseluruhan sistem pendidikan khususnya di sekolah. Guru sebagai salah satu pendukung unsur pelaksana pendidikan yang mempunyai tanggung jawab sbagai pendukung pelaksana layanan bimbingan pendidikan di sekolah, di tuntut untuk memiliki wawasan yang memadai terhadap konsep –konsep dasar bimbingan dan konseling di sekolah.

Sebagai individu, siswa memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan.Kenyataan yang dihadapi, tidak semua siswa menyadari potensi yang dimiliki untuk kemudian memahami dan mengembangkannya. Disisi lain sebagai individu yang berinterksi dengan lingkungan, siswa juga tidak dapat lepas dari masalah.

Menyadari hal di atas siswa perlu bantuan dan bimbingan orang lain agar dapat berindak dengan tepat sesuai dengan potensi yang ada pada dirinya. Sekolah sebagai institusi pendidikan tidak hanya berfungsi memberikan pengetahuan tetapi juga mengembangkan kesluruhan kepribadian anak. Sebagai profesional guru memegang peran penting dalam membantu murid mengembangkan seluruh aspek kepribadian dan lingkungannya.

 

  1. B.     Rumusan Masalah

Adapun yang menjadi rumusan masalah pada makalah ini adalah:

  1. Apakah pengertian manajemen bimbingan dan konseling?
  2. Apa sajakah tujuan manajemen bimbingan dan konseling?
  3. Bagaimana peranan konselor dalam penerapan bimbingan dan konseling?
  4. Bagaimana prinsip-prinsip manajemen bimbingan dan konseling?
  5. Apakah yang mendasari bimbingan dan konseling di sekolah?
  6. Apa sajakah aspek-aspek dalam manajemen bimbingan dan konseling?
  7. Seperti apakah orientasi layanan bimbingan dan konseling tersebut?
  8. Bagaimana kode etik bimbingan dan konseling?
  9. Bagaimana tugas dan tanggung jawab personel sekolah dalam program bimbingan dan konseling?
  10. Bagaimana peranan guru dalam bimbingan dan konseling?
  11. Bagaimana peranan bimbingan dan konseling dalam pembelajaran siswa?
  12. Meliputi apa sajakah kegiatan dalam manajemen bimbingan dan konseling?

 

  1. C.    Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:

  1. Untuk mengetahui pengertian manajemen bimbingan dan konseling.
  2. Untuk mengetahui tujuan manajemen bimbingan dan konseling.
  3. Untuk mengetahui peranan konselor dalam penerapan bimbingan dan konseling di sekolah.
  4. Untuk mengetahui prinsip-prinsip manajemen bimbingan dan konseling.
  5. Untuk mengetahui dasar bimbingan dan konseling di sekolah.
  6. Untuk mengetahui aspek-aspek dalam manajemen bimbingan dan konseling
  7. Untuk mengetahui orientasi layanan bimbingan dan konseling.
  8. Untuk mengetahui kode etik bimbingan dan konseling.
  9. Untuk mengetahui tugas dan tanggung jawab personel sekolah dalam program bimbingan dan konseling.
  10. Untuk mengetahui peranan guru dalam bimbingan dan konseling.
  11. Untuk mengetahui peranan bimbingan dan konseling dalam pembelajaran siswa.
  12. Untuk mengetahui kegiatan dalam manajemen bimbingan dan konseling.

 

  1. D.    Manfaat

Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah:

  1. Dapat mengetahui pengertian manajemen bimbingan dan konseling.
  2. Dapat mengetahui tujuan manajemen bimbingan dan konseling.
  3. Dapat mengetahui peranan konselor dalam penerapan bimbingan dan konseling di sekolah.
  4. Dapat mengetahui prinsip-prinsip manajemen bimbingan dan konseling.
  5. Dapat mengetahui dasar bimbingan dan konseling di sekolah.
  6. Dapat mengetahui aspek-aspek dalam manajemen bimbingan dan konseling
  7. Dapat mengetahui orientasi layanan bimbingan dan konseling.
  8. Dapat mengetahui kode etik bimbingan dan konseling.
  9. Dapat mengetahui tugas dan tanggung jawab personel sekolah dalam program bimbingan dan konseling.
  10. Dapat mengetahui peranan guru dalam bimbingan dan konseling.
  11. Dapat mengetahui peranan bimbingan dan konseling dalam pembelajaran siswa.
  12. Dapat mengetahui kegiatan dalam manajemen bimbingan dan konseling.

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

                                                                             

  1. A.    Pengertian Manajemen Bimbingan dan Konseling

Istilah manajemen berasal dari kata management dalam bahasa Inggris. Banyak pakar yang mengartikan istilah manajemen dalam berbagai versi. Namun pada prinsipnya manajemen memuat makna segala upaya menggerakkan individu atau kelompok untuk bekerja sama dalam mendayagunakan sumber daya dalam suatu sistem untuk mencapai tujuan.

Apabila diterapkan ke dalam pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah, maka manajemen bimbingan dan konseling merupakan keseluruhan proses aktivitas yang dilakukan oleh sekelompok manusia dalam suatu sistem organisasi bimbingan dan konseling dengan menggunakan segala sumber daya untuk mencapai tujuan secara efisien dan efektif dalam layanan bimbingan dan konseling. Lebih lanjut, manajemen bimbingan dan konseling adala segala upaya atau cara yang digunakan kepala sekolah untuk mendaya gunakan secara optimal semua komponen atau sumber daya (tenaga, dana, sarana/prasarana) dan sistem informasi berupa himpunan data bimbingan untuk menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling dalam rangka mencapai tujuan bimbingan dan konseling.

Hal-hal yang berkenaan dengan penyelenggaraan layanan bimbingan konseling di sekolah, diantara sebagai berikut:

  1. Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor

Dalam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya perubahan manajemen dari pendekatan sentralistik-birokratik menuju desentralistik-profesional. Dimana dalam pendekatan sentralistik-birokratik, konselor melaksanakan tugasnya sudah ditentukan dan dipolakan sedemikian rupa oleh pusat, melalui berbagai aturan, ketentuan, petunjuk pelaksanaan, petunjuk teknis dan sebagainya. Sehingga mengakibatkan ruang gerak konselor menjadi terbatasi, sehingga pada akhirnya konselor menjadi kurang terbiasa dengan budaya kreatif dan inovatif.

Sedangkan pendekatan desentralistik-profesional menjadikan ruang gerak konselor menjadi leluasa, dimana proses kreatif dan inovatif justru menjadi lebih utama. Konselor didorong untuk memiliki keberanian dan membiasakan diri untuk menemukan cara-cara baru yang lebih efektif dan efisien dalam melaksanakan berbagai kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling. Dalam hal ini konselor dituntut untuk bekerja secara professional.

Konselor seyogyanya tidak merasa cepat berpuas diri dengan kapasitas pengetahuan dan ketrampilan yang saat ini di milikinya, namun justru harus senantiasa berusaha untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya. Upaya peningkatan kapasitas pengetahuan dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Kita bisa memaklumi bahwa saat ini latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh konselor masih beragam, baik dilihat dari program studi/jurusan maupun jenjangnya. Sedangkan untuk meningkatkan keterampilan berbagai teknik bimbingan, salah satu cara yang dipandang cukup efektif adalah dengan berusaha secara terus-menerus dan seringkali mempraktekkan berbagai teknik yang ada.

Misalnya, untuk menguasai teknik-teknik konseling, tentunya konselor harus mempraktekkan sendiri secara langsung, dan setiap selesai mempraktekkan diikuti dengan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan. Kemudian, membandingkannya dengan teori-teori yang ada, sehingga akan bisa diketahui kelemahan dan keunggulan dari praktek yang telah dilakukan.

Walaupun demikian perlu dicatat, bahwa keleluasaan dalam menjalankan tugas ini tidak diartikan segala sesuatunya menjadi serba boleh, hal-hal yang menyangkut prinsip dan etika profesi bimbingan tetap harus dijaga dan dipelihara, sejalan dengan tunutnan profesionalisme.

 

  1. Akuntabilitas Kerja Konselor

Pada masa sebelum diberlakukan MPMBS, akuntabilitas memang tidak jelas. Sekalipun ada barang kali hanya sebatas dihadapan kepala sekolah ataupun pengawas sebagai tugas mewakili pihak pemerintah. Namun, pada kenyataannya, sering kali kepala sekolah atau pengawas mengambil sikap permisif atas hasil kerja yang ditunjukan konslor, padahal hasil kerja yang ditunjukan sama sekali tidak bermutu. Akunbilitas seperti ini tentunya tidak memberikan kontribusi bagi peningkatan kerja dan produktivitas konselor. Dengan adanya akuntabilitas ini, jelas konselor dituntut untuk lebih meningkatkan mutu kinerja dan tingkat produktivitas dalam memberikan layanan bantuan terhadap siswa. Jika hal ini tidak terpenuhi maka konselor harus siap-siap untuk menerima berbagai complain dari masyarakat yang mungkin tidak mengenakan.

Apalagi dengan kehadiran Komite Sekolah yang dianggap sebagai lembaga yang mewakilli kepentingan masyarakat, maka masyarakat akan jauh lebih terbuka dan leluasa untuk menyampaikan berbagai ketidak puasan atas hasil-hasil kerja yang telah dicapai oleh konselor. Dan seberapa besarnya dan yang harus dikeluarkan tidak lagi menjadi persoalan besar, yang penting perstasi anak benar-benar dapat terwujudkan dengan baik, baik dalam akademik maupun non akademik.

 

  1. Konselor sebagai Agen Informasi

Konselor dianggap sebagai orang memiliki informasi atau data tentang siswa yang lebih lengkap dan memadai. Informasi atau data tentang siswa ini sangat berguna dan dapat dijadikan dasar untuk berbagai pengambilan berbagai keputusan sekolah yang berkenaan dengan siswa. Oleh sebab itu, informasi harus diadministrasikan sedimikian rupa dan siap saji, kapan saja diperlukan. Dalam mengkomunikasikan informasi-informasi tentang siswa, yang berkaitan dengan pengambilan keputusan, khususnya dalam forum komite sekolah, konselor hendaknya dapat menyampaikan pandangan-pandangannya secara tegas, yang berpihak pada kepentingan siswa itu sendiri.

Dalam penerapan MPMBS, upaya meningkatkan kuantitas dan kualitas layanan bimbingan ini konselor hendaknya memperhatikan pengembangan kerja sama, koordinasi dan sinergis kerja dengan berbagai komponen pendidikan lainnya. Karena dalam penerapan MPMBS, keberhasilan pendidikan di sekolah tidak lagi didasarkan pada individual yang cerdas, akan tetapi sangat mengutamakan pada team work yang cerdas dan kompak. Untuk itulah, konselor sedapat mungkin harus menjadi bagian utama dari team work tersebut.

 

  1. B.     Tujuan Manajemen Bimbingan dan Konseling

Adapun tujuan dari dilaksanakannya manajemen bimbingan dan konseling ada lima yang dikutip dari Syahril & Riska Ahmad, Pengantar Bimbingan dan Konseling , (Padang: Angkasa Raya, 1986), antara lain:

1.         Untuk mengenal diri sendiri dan lingkungan peserta didik dapat mengenali kekuatan dan kelemahan yang ada dalam dirinya sehingga dia dapat meyesuaikan dirinya dengan lingkungan.

2.         Untuk menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis.
Diharapkan peserta didik dapat menerima keadaan yang ada pada dirinya.

3.         Untuk dapat mengambil keputusan sendiri. Diharapkan seseorang dapat mandiri dalam mengambil keputusan sendiri untuk memenuhi kebutuhan dalam kebutuhannya dangan konsekuensi yang dapat dipertanggung jawabkan.

4.         Untuk dapat mengarahkan diri sendiri. Diharapkan peserta didik dapat mangarahkan dirinya menurut bakat dan juga minat yang ada dalam dirinya.

5.         Untuk dapat mewujudkan diri sendiri. Diharapkan peserta didik dapat merealisasikan dirinya dalam bentuk nyata sebagai sebuah wujud rasa percaya diri yang ada pada individu tersebut.

 

  1. C.    Peranan Konselor

Barruth dan Robinson dalam Muhammad Nur Wangid menjelaskan berbagai peran yang lazim dilakukan oleh seorang konselor:

  1. Konselor sebagai seorang konselor

Pemaknaan konseli sebagai suatu layanan bagi siapapun juga yang mencari bantuan dari seseorang yang terlatih secara profesional (konselor), dan layanan yang diberikan bisa secara individu atau kelompok dengan cara mengarahkan konseli untuk memahami dan menghadapi situasi kehidupan nyata sehingga bisa membuat suatu keputusan berdasarkan pemahaman tersebut untuk kebahagiaan hidupnya adalah peranan kunci bagi konselor profesional disemua seting layanan.

 

  1. Konselor sebagai seorang konsultan

Konselor yang efektif akan membangun atau memiliki jalinan kerja sama dengan berbagai pihak demi kepentingan konseli, ssehingga peran yang dilakukan tidak hanya terbatas pada koselor sebagai konselor saja. Apalagi dalam masa keterbukaan sekarang ini peran konselor sebagai konsultan menjadi tuntutan yang harus dipenuhi. Konselor diharapkan dapat bekerja sama denngan berbagai pihak lain yang dapat mempengaruhi diri konseli seperti kepala sekolah, orang tua, guru, dan sebagainya yang mempengaruhi kehidupan konseli.

 

  1. Konselor sebagai agen perubahan

Keseluruhan lingkungan dari konseli harus dapat berfungsi sehingga dapat mempengaruhi kesehatan mental menjadi lebih baik, dan konselor dapat mempergunakan lingkungan tersebut untuk memperkuat atau mempertinggi berfungsinya komseli. Fungsi yang berkaitan dengan peranan ini antara lain analisis sistem, testing dan evaluasi, perencanaan rogram, perlindungan konseli, networking, dsb.

 

  1. Konselor sebagai seorang agen pencegahan utama

Sebagai agen untuk mencegah perkembangan yang salah satu dan atau mengulang kembali kesulitan. Penekanan dilakukan terutama dengan memberikan strategi dan pelatihan pendidikan sebagai cara untuk memperoleh atau meningkatkan keterampilan interpersonal.

 

  1. Konselor sebagai seorang manajer

Konselor selalu memiliki sisi peran selaku administator. Sehubungan dengan itu konselor harus sanggup menangani berbagai segi program pelayanan yanng memiliki ragam variasi pengharapan dan peran seperti telah dikemukakan diatas. Untuk itu perlu keahlian dalam perencanaan program, penilaian kebutuhan, strategi evaluasi program, penetapan tujuan, pembiayaan, dan pembuatan keputusan.

Berbagai peran yang ditanggung atau disandang seorang konselor dapat menjadi sesuatu yang berakibat konstruktif atau sebaliknya negatif. Berakibat negatif jika peran yang seharusnya dilakukan oleh konselor dipandang sebagai beban, sehingga justru menurunkan kinerja dan penghargaan dari pihak lain. Bermakna konstrutif apabila konselor dapat melaksanakan peran-peran tersebut secara tepat sesuai dengan kebutuhan dan konteks sehingga menjadikan kinerjanya semakin efektif baik dalam arti prestasi sesuai keinginan ataupun dalam prsepsi pihak lain. Dari perspektif ini berarti kemampuan konselor untuk mengatur perannnya menjadi sangat penting.

 

  1. D.    Prinsip-prinsip Manajemen Bimbingan dan Konseling

Prinsip dapat diartikan sebagai permulaan untuk suatu cara tertentu yang akan melahirkan hal-hal lain, yang  keberadaannya tergantung dari permulaan itu. Bimbingan konseling membutuhkan suatu prinsip atau aturan main dalam menjalankan program pelayanan bimbingan. Menurut Prayinto dan Amti  (1994:220)  prinsip bimbingan konseling itu rumusan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling pada umumnya berkenaan dengan sasaran pelayanan, masalah klien, tujuan dan  proses penanganan masalah,  program pelayanan dan penyelenggaraan pelayanan.

Secara umum, prinsip-prinsip manajemen meliputi perencanaan (planing), pengorganisasian (organizing), penyusunan personalia (staffing), pengarahan dan kepemimpinan (leading), dan pengawasan (controlling). Prinsip-prinsip manajemen diatas secara terintegrasi dalam pelayanan bimbingan dan konseling akan berkenaan dengan bagaimana secara umum pelayanan bimbingan dan konseling itu dikelola.

Pertama, perenacanaan (planing). Perencanaan dalam bimbingan dan konselinng akan sangat menentukan proses dan hasil pelayanan bimbinngan dan konseling itu sendiri. Pelayanan bimbingan dan konseling sebagai suatu proses kegiatan, membutuhkan perencanaan yang matang dan sistematis dimulai dari penyusunan program hinngga pelaksanaannya. Agar pelayanan bimbingan dan konseling memperoleh hasil sesuai tujuan yang telah dirumuskan, maka harus dilakukan perencanaan. Disekolah dan di madrasah fungsi ini dilaksanakan oleh kepala sekolah, koordinasi BK (apabila disekolah dan di madrasah yang bersangkutan memiliki banyak tenaga atau petugasbimbingan dan konseling ) dan guru BK.

Kedua, pengorganisasian (organizing). Pengorganisasian dalam pelayanan bimbingan dan konseling berkenaan dengan bagaimana pelayanan bimbinngan dan konseling dikelola dan diorganisasi. Pengelolaan dan pengorganisasian pelayanan bimbingan dan konseling berkaitan dengan model atau pola yang dianut oleh suattu sekolah dan madrsah. Apabiladiseklah dan dimadrasah yang bersangkutan memiliki banyak tenaga bimbingan, maka harus disusun organisasi pelayanan BK tersendiri yang terdiri atas koordinator, anggota, dan staf administrasi palayanan BK, fungsi ini dilaksanakan oleh kepala sekolah dan koordinator layanan BK (apabila sekolah dan madrasah memiliki banyak petugas bimbingan).

Ketiga, penyusunan personalia (stafing). Prinsip ini dalam pelayanan bimbingan dan konsling berkenaan dengan bagaimana para personalia atau orang-orang yang terlibat dalam aktivitas pelayanan bimbingan dan konseling ditetapkan, disusun dan diadakan pembagian tugas (job discription) sebagaimana telah disebutkan dalam penyusunan program BK diatas. Guru BK akan memerlukan orang lain dalam memberikan pelayanan BK. Dengan kata lain, pelayanan BK disekolah dan dimadrasah melibatkan banyak orang. Untujk itu harus disusun para personalia atau orng-orang yang terlibat dalam layanan agar pelaksanaanya afektifdan efisien pula. Funngsi ini dilaksanakan oleh kepala sekolah dan madrasah yang bersangkutan memiliki beberapa orang.

Keempat, pengarahan dan kepemimpinan (leading). Prinsip ini berkenaan dengan bagaimana mengarahkan dan memimpin para personalia layanan bimbingan dan konseling, sehingga mereka bekerja sesuai dengan job atau bidang tugasnya masing-masing. Pengarahan dan kepemimpinan diperlukan agar aktivitas pelayanan bimbingan dan konseling terarah pada pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Fungsi ini dilaksanakan oleh kepalasekolah dan madrsah yang bersangkutan hanya memiliki sattu orang guru BK. Apabila disekolah dan madrasah yang bersangkutan memiliki beberapa orang guru BK harus ditunjukan salah seorang sebagai koordinatorlah dan yanng melaksanakan fungsi pengarahan dan kepemimpinan. Secara umum fungsi ini disekolah dan madrasah dilaksanakan oleh kepala sekolah dan madrasah.

Kelima, pengawasan (controling). Prinsip ini dalam pelayanan konseling berkenaan dengan bagaimana melakukan pengawasan dan penilaian terhadap kegiatan bimbingan dan konseling mulai dari penyusunan rencana program hingga pelaksanaannya. Pengawasan penting dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling agar tidak dapat terjadi penyimpangan-penyimpangan dalam pelaksanaannya. Iimplementasi program dalam bentuk aktivitas-aktivitas layanan BK perlu pengawasan dan penilaian atau evaluasi agar tidak terjadi penyimpangan-penyimpangna dalam pelaksanaanya dan dapat diketahui pencapaian hasil-hasilnya. Fungsi ini dilaksanakan oleh kepala sekolah dan madrasah apabila disekolah dan dimadrasah yang bersangkutan hanya memiliki satu orang guru BK. Tetapi apabila disekolah dan madrasah yang bersangkutan memiliki beberapa orang guru BK. Fungsi ini dilaksanakan oleh koordinator layanan BK sekaligus juga kepala sekolah dan madrasah.

Adapun rumusan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling yang berkenaan dengan objek dalam pelayanan bimbingan yaitu prinsip-prinsip yang berkenaan dengan sasaran layanan, prinsip  yang  berkenaan dengan permasalahan idividu, prinsip yang berkenaan dengan  program  pelayanan dan yang terakhir prinsip yang berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan pelayanan. Dari  empat rumusan tersebut, bimbingan dan konseling akan tercapai sesuai keinginan konselor dan klien.

  1. Prinsip Umum
    1. Bimbingan harus berpusat pada individu yang di bimbingnya.
    2. Bimbingan diberikan kepada memberikan bantuan agar individu yang dibimbing mampu mengarahkan dirinya dan menghadapi kesulitan-kesulitan dalam hidupnya.
    3. Pemberian bantuan disesuaikan dengan kebutuhan individu yang dibimbing.
    4. Bimbingan berkenaan dengan sikap dan tingkah laku individu.
    5. Pelaksanaan bimbingan dan konseling dimulai dengan mengidentifikasi kebutuhan yang dirasakan individu     yang dibimbing.
    6. Upaya pemberian bantuan harus dilakukan secara fleksibel.
    7. Program bimbingan dan konseling harus dirumuskan sesuai dengan program pendidikan dan pembelajaran di sekolah yang bersangkutan.
    8. Implementasi program bimbingan dan konseling harus dipimpin oleh orang yang memiliki keahlian dalam bidang bimbingan dan konseling dan pe;laksanaannya harus bekerjasama dengan berbagai pihak yang terkait, seperti dokter psikiater, serta pihak-pihak yang terkait lainnnya.
    9. Untuk mengetahui hasil yang diperoleh dari upaya pelayanan bimbingan dan konseling, harus diadakan penilaian atau ekuivalensisecara teratur dan berkesinambungan.

 

  1. Prinsip-prinsip Khusus yang Berhubungan dengan Siswa
    1. Pelayanan BK harus diberikan kepada semua sisiwa.
    2. Harus ada kriteria untuk mengatur  prioritas pelayanan bimbingan dan konseling kepada individu atau siswa.
    3. Program pemberian bimbingan dan konseling harus berpusat pada siswa.
    4. Pelayanan dan bimbingan konseling di sekolah dan madrasah harus dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan individu yang bersangkutan beragam dan luas.
    5. Keputusan akhir dalam proses BK dibentuk oleh siswa sendiri.
    6. Siswa yang telah memperoleh bimbingan, harus secara berangsur-angsur dapat menolong dirinya sendiri.

 

  1. Prinsip Khusus yang Berhubungan dengan Pembimbing
    1. Konselor harus melakukan tugas sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
    2. Konselor di sekolah dipilih atas dasar kualifikasi kepribadian, pendidikan pengalaman, dan kemampuan.
    3. Sebagai tuntutan profesi, pembimbing atau konselor harus senantiasa berusaha mengembangkan dirinya dan keahliannya melalui berbagai kegiatan.
    4. Konselor hendaknya selalu mempergunakan berbagai informasi yang tersedia tentang siswa yang dibimbing beserta lingkungannya sebagai bahan yang membantu innsividu yang bersangkutan kearah penyesuaian diri yang lebih baik.
    5. Konselor harus menghormati, menjaga kerahasiaan informasi tentang siswa yang dibimbingnya.
    6. Konselor harus melaksanakan tugasnya hendaknya mempergunakan berbagai metode yang sama.

 

  1. Prinsip yang Berhubungan dengan Organisasi dan Administrasi (Manajemen) Pelayanan Bimbingan Konseling
    1. Bimbingan dan konseling harus dilaksanakan secara sistematis dan berkelanjutan.
    2. Pelaksanaan bimbingan dan konseling ada di kartu pribadi (commulative record) bagi setiap siswa.
    3. Program pelayanan bimbingan dan konseling harus disusun sesuai dengan kebutuhan sekolah atau madrasah yang bersangkutan.
    4. Harus ada pembagian waktu antar pembimbing, sehingga masing-masing pembimbing mendapat kesempatan yang sama dalam memberikan bimbingan dan konseling.
    5. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dalam situasi individu atau kelompok sesuai dengan masalah yang dipecahkan dan metode yang dipergunakan dalam mememcahkan masalah terkait.
    6. Dalam menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling, sekolah dan madrasah harus bekerja sama dengan berbagai pihak.
    7. Kepala sekolah atau madrasah merupakan penanggung jawab utama dalam penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah.

 

Prayitno dan Erman Amti (1999) mengklasifikasikan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling ke dalam empat bagian, yaitu:

1.         Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan sasaran pelayanan

  1. Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa memandang umur, jenis kelamin, suku, agama dan status sosial ekonomi.
  2. Bimbingan dan konseling berurusan denganpribadi dan tingkah laku individu  yang  unik dan dinamis.
  3. Bimbingan dan konseling memperhatikan sepenuhnya tahap-tahap berbagai aspek perkembangan individu.
  4. Bimbingan dan konseling memberikan perhatian utama kepada perbedaan  individual  yang menjadi orientasi pokok pelayanan.

 

2.         Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan individu

  1. Bimbingan dan konseling berurusan dengan hal-hal yang menyangkut pengaruh kondisi  mental/fisik individu terhadap penyesuaian dirinya di rumah, di sekolah, serta dalam kaitannya dengan kontak sosial dan pekerjaan dan sebaliknya pengaruh lingkungan terhadap kondisi  mental  dan fisik individu.
  2. Kesenjangan sosial, ekonomi, dan kebudayaan merupakan factor timbulnya masalah pada individu yang semuanya menjadi perhatian utama pelayanan bimbingan dan konseling.

 

3.         Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan program pelayanan

  1. Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari upaya pendidikan dan pengembangan induvidu; oleh karena itu program bimbingan dan konseling harus diselaraskan dan dipadukan dengan program pendidikan serta pengembangan peserta didik.
  2. Program bimbingan dan konseling harus fleksibel disesuaikan dengan kebutuhan individu, masyarakat, dan kondisi lembaga.
  3. Program bimbingan dan konseling disusun secara berkelanjutan dari jenjang pendidikan terendah sampai tertinggi.

 

4.         Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan pelaksanaan pelayanan

  1. Bimbingan dan konseling harus mengarahkan individu mampu menyelesaikan permasalahan pribadi.
  2. Dalam proses bimbingan dan konseling keputusan yang diambil dan akan dilakukan oleh individu harusnyan atas kemauan individu sendiri, bukan karena desakan atau kemauan orang lain.
  3. Permasalahan individu harus ditangani oleh tenaga ahli daa bidang yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi.
  4. Kerja sama antara pembimbing dengan guru lain dan orang tua meentukan hasil pelayanan pembimbingan.
  5. Pengembangan program layanan bimbingan dan konseling ditempuh melalui pemanfaatan yang maksimal dari hasil pengukuran dan penilaian terhadap individu yang terlibat dalam proses pelayanan dan program bimbingan dan konseling itu sendiri.

 

  1. E.     Dasar Bimbingan dan Konseling

Dasar bimbingan dan konseling adalah ketentuan-ketentuan yang harus ditetapkan dalam peyelenggaraan pelayanan, agar kegiatan pelayanan tersebut dapat terlakasana dengan baik serta mendapat hasil yang memuaskan bagi konseling. Dasar-dasar bimbingan dan  konseling tersebut adalah:

  1. Asas Kerahasiaan

Yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakannya segenap data dan keterangan peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui orang lain. Dalam hal ini, guru pembimbing (konselor) berkewajiban memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin.

  1. Asas Kesukarelaan

Yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan peserta didik (klien) mengikuti/ menjalani layanan/kegiatan yang diperuntukkan baginya.Guru Pembimbing (konselor) berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan seperti itu.

  1. Asas Keterbukaan

Yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersikap terbuka dan tidak berpura-pura, baik dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Guru pembimbing (konselor) berkewajiban mengembangkan keterbukaan peserta didik (klien). Agar peserta didik (klien) mau terbuka, guru pembimbing (konselor) terlebih dahulu bersikap terbuka dan tidak berpura-pura.Asas keterbukaan ini bertalian erat dengan asas kerahasiaan dan dan kekarelaan.

  1. Asas Kegiatan

Yaitu asas bimbingan konseling yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan dapat berpartisipasi aktif di dalam penyelenggaraan/kegiatan bimbingan.Guru Pembimbing (konselor) perlu mendorong dan memotivasi peserta didik untuk dapat aktif dalam setiap layanan/kegiatan yang diberikan kepadanya.

  1. Asas Kemandirian

Yaitu asas yang menunjukkan pada tujuan umum bimbingan dan konseling, yaitu peserta didik (klien) sebagai sasaran layanan/kegiatan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi individu-individu yang mandiri, dengan ciri-ciri mengenal diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan, serta mewujudkan diri sendiri.Guru Pembimbing (konselor) hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan bimbingan dan konseling bagi berkembangnya kemandirian peserta didik.

  1. Asas Kekinian

Yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar obyek sasaran layanan bimbingan dan konseling yakni permasalahan yang dihadapi peserta didik/klien dalam kondisi sekarang. Kondisi masa lampau dan masa depan dilihat sebagai dampak dan memiliki keterkaitan dengan apa yang ada dan diperbuat peserta didik (klien) pada saat sekarang.

  1. Asas Kedinamisan

Yaitu asas yang menghendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan (peserta didik/klien) hendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.

  1. Asas Keterpaduan

Asas yang menghendaki agar berbagai layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis dan terpadukan. Dalam hal ini, kerja sama dan koordinasi dengan berbagai pihak yang terkait dengan bimbingan dan konseling menjadi amat penting dan harus dilaksanakan sebaik-baiknya.

  1. Asas Kenormatifan

Asas yang menghendaki agar segenap layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada norma-norma, baik norma agama, hukum, peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan – kebiasaan yang berlaku. Bahkan lebih jauh lagi, melalui segenap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling ini harus dapat meningkatkan kemampuan peserta didik (klien) dalam memahami, menghayati dan mengamalkan norma-norma tersebut.

  1. Asas Keahlian

Asas yang menghendaki agar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselnggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional.Dalam hal ini, para pelaksana layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling lainnya hendaknya tenaga yang benar-benar ahli dalam bimbingan dan konseling.Profesionalitas guru pembimbing (konselor) harus terwujud baik dalam penyelenggaraaan jenis-jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling dan dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling.

  1. Asas Alih Tangan Kasus

Yaitu asas yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik (klien) kiranya dapat mengalih-tangankan kepada pihak yang lebih ahli. Guru pembimbing (konselor)dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain. Demikian pula, sebaliknya guru pembimbing (konselor), dapat mengalih-tangankan kasus kepada pihak yang lebih kompeten, baik yang berada di dalam lembaga sekolah maupun di luar sekolah.

  1. Asas Tut Wuri Handayani

Yaitu asas yang menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana mengayomi (memberikan rasa aman), mengembangkan keteladanan, dan memberikan rangsangan dan dorongan, serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik (klien).

 

  1. F.     Aspek-aspek dalam Manajemen Bimbingan dan Konseling
  2. Perencanaan Program Bimbingan dan Konseling

Bimbingan dan konseling dapat dikatakan sebagai “soko guru” yang ketiga dalam sistem pendidikan di sekolah selain pembelajaran (instruksional) dan administrasi sekolah. Sebagi sub-sistem pendidikan di sekolah, bimbingan dan konseling dalam gerak dan pelaksanaannya tidak pernah lepas dari perencanaan yang seksama dan bersistem. Hal ini bertujuan agar pencapai hasil dalam konteks kontribusinya bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah dapat terlihat.

Untuk tercapainya program perencanaan BK yang efektif dan efisien, maka ada beberapa hal yang harus dilakukan yaitu: analisis kebutuhan siswa, penentuan tujuan BK, analisis situasi sekolah, penentuan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan, penetapan metode pelaksanaan kegiatan, penetapan personel kegiatan, persiapan fasilitas dan biaya kegiatan, dan perkiraan tentang hambatan kegiatan dan antisipasinya.

Pengertian program menurut T. Raka Joni (1981): “program adalah seperangkat kegiatan yang dirancang dan dilakukan secara kait mengkait untuk mencapai tujuan tertentu”. Dari definisi tersebutdapat diuraikan bahwa suatu program mengandung unsur-unsur:

  1. Adanya seperangkat kegiatan, artinya kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan merupakan suatu kegiatan yang utuh.
  2. Dirancang, artinya hal-hal yang akan dilakukan dirancang sedemikian rupa agar tidak terjadi pelapisan atau akumulasi kegiatan, apalagi berbagai benturan akibat kegiatan yang dilakukan berulang-ulang yang pada gilirannya berdampak pada penurunan efektivitas dan efesiansi.
  3. Dilakukan secara kait-mengkait, yaitu bahwa dalam melakukan kegiatan yang sudah dirancang kegiatan itu tidak berdiri sendirimelinkan ada keterkaitan antar satu dengan yang lain. Kegiatan itu tidak hanya terjadi antar kegiatan saja tetapi juga pada tahap kesinambungan kegiatan satu dengan tahap kegiatan selanjutnya.
  4. Adanya tujuan tertentu, yaitu sebagai arah dan kendali agar semua aktivitas yang terangkum dalamprogram selalu terfokus pada satu titik tujuan.

Dalam pelaksanaannya, pelayanan bimbingan dan konseling melibatkan seluruh personil sekolah, maka dari itu diperlukan program yang sistematis agar pelaksanaannya tidak tumpang tindih dan benturan dengan kegiatan pada bidang-bidang lain. Adapun program yang yang sistematis selalu mengacu pada prinsip-prinsip sebagi berikut :

  1. Program bimbingan dan konseling dirancang untuk melayani kebutuhan siswa.
  2. Program bimbingan dan konseling merupakan bagian terpadu dari keseluruhan program pendidikan di sekolah.
  3. Tujuan program harus dirumuskan secara jelas dan eksplisit (operasional) dan menunanng pencapaian keseluruhan tujuan program bimbingan dan konseling.
  4. Pelaksanaan program perlu melibatkan seluruh staf sekolah.
  5. Personil bimbingan dan konseling perlu dididentifikasi dan tugas-tugas serta tanggung jawabnya harus dirumuskan.
  6. Segala sumber daya perlu ditemukan untuk mencapai tujuan program.
  7. Dua hal yang esensial dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling adalah data pribadi siswa untuk pemahaman diri dan bahan informasi untuk perencanaan pendidikan dan pengambilan keputusan.
  8. Perlu penerapan rancangan sistem dalam pengembangan program dan pemecahan masalah pengelolaan.
  9. Dukungan dan pelibatan masyarakat sekitar harus diusahakan sejauh mungkin demi kelancaran penyelenggaraan program dan tercapainya tujuan (Munandir, 1996).

 

  1. Pelaksanaan dan Pengarahan Program Bimbingan dan Konseling

Setiap sekolah sebagai satuan pendidikan perlu merancang program bimbingan dan konseling sebagai bagian integral dari program sekolah secara keseluruhan. Program inilah yang akan dijadikan acuan pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di sekolah tersebut. Terdapat dua jenis program yang perlu dirancang dan diprogramkan, yakni:

  1. Program tahunan sebagai program sekolah

Program tahunan ini dijabarkan menurut alokasi waktu pada setiap semester, program bulanan, bahkan program mingguan. Oleh karena itu, perlu dibuat dalam satu matriks atau schedule. Dalam program itu dicantumkan substansi kegiatan, jenis layanan menurut alokasi waktu. Kegiatan layanan bimbingan dan konseling sebagai program sekolah, antara lain:

1)     Pemberian layanan informasi melalui ceramah yang mengundang nara sumber dari luar sekolah.

2)     Program pemberian layanan orientasi bagi siswa baru pada awal tahun.

3)     Mengadakan tes bakat dan minat untuk bahan pertimbangan penjurusan.

4)     Mengadakan kunjungan ketempat industri yang bermanfat bagi bimbingan karir.

5)     Membentuk kelompok-kelompok group counseling.

6)     Memberikan pelatihan keterampilan belajar akademik

 

  1. Program kegiatan layanan bagi setiap Guru Pembimbing sesuai dengan pembagian tugas layanan di sekolah

Setiap guru pembimbing perlu membuat program berupa satuan layanan (satlan) badan satuan kegiatan pendukung (satkung) setiap kali akan melakukan pelayanan kepada siswa berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan. Penyusunan program pada masing-masing bidang pelayanan bimbingan dan konseling hendaknya disesuaikan dengan karakteristik satuan pendidikan atau jenis dan jenjang sekolah.

Agar pelaksanaan program kegiatan layanan bimbingan dan konseling sesuia dengan tujuan yang ingin dicapai maka diperlukan pengarahan agar terjadi suatu tata kerja yang diwarnai oleh koordinasi dan komonikasi yang efektif diantara staf bimbingan dan konseling. Pengarahan ini juga dilakukan untuk memotivasi staf dalam melakukan tugas-tugasnya sehingga memungkinkan kelancaran dan efektivitas pelaksanaan program yang telah direncanakan.

Pelaksanaan kegiatan Pelayanan Bimbingan Konseling di dalam jam pembelajaran sekolah / madarasah dapat dibentuk : kegiatan tatap muka secara klasikal dan kegiatan non tatap muka. Kegiatan tatap muka secara klasikal dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan informasi, penempatan dan penyaluran, penguasaan konten, kegiatan instrumentasi, serta layanan / kegiatan lain yang dapat dilakukan di dalam kelas. Volume kegiatan tatap muka klasikal adalah 2 (dua) jam per kelas per minggu dan dilaksanakan secara terjadwal. Sedangkan kegiatan non tatap muka dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan konsultasi, kegiatan referensi kasus, himpunan data, kunjungan rumah, pemanfaatan kepustakaan, dan alih tangan kasus.

Kegiatan pelayanan Bimbingan Konseling diluar jam pembelajaran sekolah / madrasah dapat berbentuk kegiatan tatap muka maupun non tatap muka dengan peserta didik, untuk menyelenggarakan layanan orientasi, konseling perorangan, bimbingan kolompok, konseling kelompok, dan mediasi, serta kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan di luar kelas. Setiap kegiatan pelayanan Bimbingan Konseling dicatat dalam laporan pelaksanaan program. Sardiman (2001:142) menyatakan bahwa ada sembilan peran guru dalam kegiatan BK, yaitu:

1)     Informator, guru diharapkan sebagai pelaksana cara mengajar informatif, laboratorium, studi lapangan, dan sumber informasi kegiatan akademik maupun umum.

2)     Organisator, guru sebagai pengelola kegiatan akademik, silabus, jadwal pelajaran dan lain-lain.

3)     Motivator, guru harus mampu merangsang dan memberikan dorongan untuk mendinamisasikan potensi siswa, menumbuhkan swadaya (aktivitas) dan daya cipta (kreativitas) sehingga akan terjadi dinamika di dalam proses belajar-mengajar.

4)     Director, guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan.

5)     Inisiator, guru sebagai pencetus ide dalam proses belajar-mengajar.

6)     Transmitter, guru bertindak selaku penyebar kebijaksanaan dalam pendidikan dan pengetahuan.

7)     Fasilitator, guru akan memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar-mengajar.

8)     Mediator, guru sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa.

9)     Evaluator, guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasi anak didik dalam bidang akademik maupun tingkah laku sosialnya, sehingga dapat menentukan bagaimana anak didiknya berhasil atau tidak.

 

  1. Evaluasi pelaksanaan program Bimbingan dan Konseling

Evaluasi pelaksanaan program bimbingan dan konseling merupakan upaya menilai efisiensi dan efektivitas pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah pada khususnya dan program bimbingan dan konseling yang dikelola oleh staf bimbingan dan konseling pada umunya. Ada beberapa kegiatan layanan bimbingan dan konseling yang dievaluasi diantaranya: konseling individual dan kelompok, konsultasi dengan siswa, orang tua, dan guru baik individual maupun kelompok, pengukuran minat, kemampuan, perilaku, dan kemajuan belajar siswa, koordinasi layanan bimbingan dan konseling terhadap siswa di sekolah. Dengan demikian evaluasi bimbingan dan konseling merupakan salah satu komponen sistem bimbingan dan konseling yang sangat penting karena mengacu pada hasil evaluasi itulah dapat diambil simpulan apakah kegiatan yang telah direncanakan telah dapat mencapai sasaran yang diharapkan secara efektif dan efisien atau tidak, kegiatan itu dilanjutkan atau sebaliknya direvisi dan sebagainya.

1)     Tujuan evaluasi pelaksanaan program Bimbingan dan Konseling

Tujuan bimbingan dan konseling secara umum adalah sebagai berikut :

a)      Mengetahui kemajuan program bimbingan dan konseling atau subyek yang telah memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling.

b)      Mengetahui tingkat efisiensi dan efektivitas strategi pelaksanaan program dalam kurun waktu tertentu.

Tujuan bimbingan dan konseling secara khusus, antara lain :

a)      Meneliti secara berkala hasil pelaksanaan program yang telah dicapai.

b)      Memperoleh informasi tentang tingkat efektivitas dan efisiensi layanan bimbingan dan konseling yang ada.

c)      Mengetahui jenis layanan yang sudah ataupun belum dilaksanakaan dan jenis layanan yang memerlukan perbaikan atau pengembangan.

d)     Mengetahui tingkat partisipasi staf atau personil sekolah dalam menunjang keberhasilan pelakanaan program.

e)      Mengetahui seberapa besar kontribusi program bimbingan dan konseling terhadap ketercapaian tujuan pembelajaran di sekolah.

f)       Memperoleh informasi yang cermat dan memadai untuk kepentingan perencanaan langkah-langkah pengembangan program.

g)      Membantu mengembangkan kurikulum sekolah yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.

 

2)     Prinsip-prinsip evaluasi pelaksanaan program Bimbingan dan Konseling

Agar diperoleh hasil evaluasi pelaksanaan program yang diharapkan, disamping menuntut pengelolaan yang baik, juga harus mengacu kepada prinsip-prinsip evaluasi program. Prinsip-prinsip tersebut, antara lain:

a)      Evaluasi program yang efektif menuntut pengenalan yang cermat terhadap tujuan yang akan dicapai

b)      Evaluai program yang efektif membutuhkan kriteria pengukuran yang jelas

c)      Evaluasi program membutuhkan keterlibatan dari berbagai pihak yang memiliki kompetensi professional

d)     Evaluasi program menuntut umpan balik dan tindak lanjut sehingga hasilnya dapat dicapai untuk dasar pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan

e)      Evaluasi program hendaknya terencana dan berkesinambuangan

 

3)     Pendekatan dan metode evaluasi pelaksanaan program bimbingan dan konseling

Shetzer dab Stone (1983) membagi pendekatan evaluasi pelaksanaan program bimbingan dan konseling ke dalam tiga pendekatan pokok, yaitu:

a)      Pendekatan dan Metode Survei

Prosedur yag dipakai dalam pendekatan dan metode survei biasanya dengan mengumpulkan sebanyak mungkin data tentang masukan (siswa), proses, dan hasil yang merupakan keluaran program. Temuan yang diperoleh dirumuskan dalam profil yang bersifat deskriptif kuantitatif maupun kualitatif.

b)      Pendekatan dan Metode Eksperimen

Pendekatan ini merupakan perpaduan antara riset dan evaluasi. Artinya kegiatannya melakukan evaluasi tetapi prosedurnya memakai model riset eksperimental. Lazimya dipakai untuk mengetahui pengaruh layanan bimbingan dan konseling terhadap perilaku siswa. Kebutuhan pendekatan dan metode ini muncul ketika layanan bimbingan dan konseling di sekolah bertujuan untuk terjadinya perubahan perilaku.

c)      Studi Kasus

Studi kasus digunakan untuk mengumpulkan data mengenai keadaan seorang siswa yang dijadikan sebagai onyek telaah kasus. Salah satu alasan pemakaian pendekatan ini adalah dalam layanan konseling diperlukan telaah cermat atas proses dan hasil perubahan akibat perlakuan (treatment) terhadap diri siswa yang bermasalah (klien). Metode ini membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak karena bersifat longitudinal. Metode ini bermanfaat untuk mengetahui perkembangan kepribadian klien sejak dari awal ketika ia bermasalah, selama dibantu sampai akhirnya setelah dibantu dengan layanan konseling.

 

d)     Supervisi Kegiatan Bimbingan dan Konseling

Manfaat pokok dari supervisi ini adlah untuk mengendalikan personil pelaksana bimbingan dan konseling, memantau kemungkinan-kemungkinan kendala yang muncul dan dihadapi personil dalam pelaksanaan tugasnya, mencari jalan keluar terhadap hambatan dan permasalahan dalam pelaksanaan program agar tercapainya pelaksanaan yang lancar kearah pencapaian tujuan bimbingan dan konseling di sekolah.

 

  1. G.    Orientasi Layanan Bimbingan dan Konseling

Layanan bimbingan dan konseling perlu memiliki orientasi tertentu. Menurut humphreys dan traxler (1954) sikap dasar pekerjaan bimbingan itu ialah bahwa individual merupakan suatu hal yang sangat penting.

  1. Orientasi individual

Pada hakekatnya setiap individu itu mempunyai perbedaan satu sama lainnya. Perbedaan itu dapat bersumber dari latar belakang pengalamannya, pendidikan, sifat-sifat kepribadian yang dimiliki an sebagainya. Menurut Willer Man (1979) anak kembar satu telur pun juga mempunyai perbedaan apalagi dibesarkan dalam lingkungan berbeda. Ini dibuktikan bahwa kondisi lingkungan juga ikut andil terjadinya perbedaan individu. Taylor (1956) juga menyatakan kelas sosial dapat menimbulkan perbedaan individu.

Perbedaan latar belakang kehidupan individu ini dapat mempengaruhi dalam cara berpikir, cara berperasaan dan cara menganalisis masalah dalam layanan bimbingan dan konseling hal ini harus menjadi perhatian besar.

 

  1. Orientasi perkembangan

Masing-masing individu berada pada usia perkembangannya. Setiap usaha perkembangan yang bersangkutan mampu mewujudkan tugas-tugas perkembangan itu. Sebagai contoh dapat dikemukakan tugas-tugas masa remaja menurut Havighurts yang dikutip oleh Hurlock (1980) antara lain:

  1. Mampu mengadakan hubungan-hubungan baru dan lebih matang dengan teman sebaya baik laki-laki maupun perempuan
  2. Dapat berperan sosial yang sesuai, baik peranannya sebagai laki-laki atau sebagai perempuan
  3. Menerima keadaan fisik serta dapat memanfaatkan kondisi fisiknya dengan baik
  4. Mampu menerima tanggung jawab sosial dan bertingkah laku sesuai dengan tanggung jawab sosial.
  5. Tidak tergantung secara emosional pada orang tua atau orang dewasa lainnya

 

  1. Orientasi masalah

Pelayanan bimbingan dan konseling harus menekankan penanganannya pada masalah yang sedang dihadapi oleh klien. Konselor jangan sampai terperangkap kepada masalah-masalah lain yang tidak dikeluhkan oleh klien. Hal ini identik dengan ‘asas kekinian’ (Priyatno, 1985). Artinya pembahasan masalah difokuskan pada masalah yang saat ini (saat berkonsultasi) dirasakan oleh klien.

 

  1. H.    Kode Etik Bimbingan dan Konseling

Kode etik adalah pola ketentuan / aturan / tata cara yang menjadi pedoman menjalani tugas dan aktivitas suatu profesi. Beberapa rumusan kode etik bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut:

  1. Pembimbing yang memegang jabatan harus memegang teguh prinsip-prinsip bimbingan dan konseling.
  2. Pembimbing harus berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai hasil yang baik.
  3. Pekerjaan pembimbing harus berkaitan dengan kehidupan pribadi seseorang maka seorang pembimbing harus:

a.            Dapat menyimpan rahasia klien

b.            Menunjukkan penghargaan yang sama pada berbagai macam klien.

c.            Pembimbing tidak diperkjenan menggunakan tena pembantu yang tidak ahli.

d.            Menunjukkan sikap hormat kepada klien

e.            Meminta bantuan alhi diluar kemampuan stafnya.

 

Di samping itu, rumusan kode etik bimbingan dan konseling yang dirumusakan oleh ikatan petugas bimbingan Indonesia, yaitu:

  1. Pembimbing menghormati harkat klien.
  2. Pembimbing menempatkan kepentingan klien diatas kepentingan pribadi.
  3. Pembimbing tidak membedakan klien.
  4. Pembimbing dapat menguasai dirinya, dalam arti kata kekurangan-kekurangannya dan perasangka-prasangka pada dirinya.
  5. Pembimbing mempunyai sifat renda hati sederhana dan sabar.
  6. Pembimbing terbuka terhadap saran yang diberikan pada klien.
  7. Pembimbing memiliki sifat tanggung jawab terhadab lembaga ataupun orang yang dilayani.
  8. Pembimbing mengusahakan mutu kerjanya sebaik ungkin.
  9. Pembimbing mengetahui pengetahuan dasar yang memadai tentang tingkah laku orang, serta tehnik dan prosedur layanan bimbingan guna memberikan layanan sebaik-baiknya.
  10. Seluruh catatan tentang klien bersifat rahasia.
  11. Suatu tes hanya boleh diberikan kepada petugas yang berwenang menggunakan dan menafsirkan hasilnya.

 

  1. I.       Tugas dan Tanggung Jawab Personel Sekolah dalam Program Bimbingan dan Konseling

Secara operasional, pelaksana utama layanan bimbingan dan konseling di sekolah adalah para guru pembimbing atau konselor sekolah di bawah koordinasi seorang Koordinator bimbingan dan konseling. Namun, dalam penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah harus melibatkan personel sekolah lainnya agar lebih berperan sesuai batas – batas kewenangan dan tanggung jawabnya sebagai team work ( Shetzer dan Stone, 1985 )

Adapun tugas dan tanggung jawab masing – masing personel:

  1. Kepala Sekolah

Sebagai penanggung jawab kegiatan pendidikan di sekolah, tugas kepala sekolah :

  1. Mengkoordinasi seluruh kegiatan pendidikan, yang meliputi kegiatan pengajaran, pelatihan, dan bimbingan konseling di sekolah
  2. Menyediakan dan melengkapi sarana dan prasarana yang diperlukan dalam kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah
  3. Memberikan kemudahan bagi terlaksananya program bimbingan dan konseling di sekolah
  4. Melakukan supervisi terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah.
  5. Menetapkan koordinator guru pembimbing yang bertanggung jawab atas koordinasi pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah berdasarkan kesepakatan guru pembimbing atau konselor.
  6. Membuat surat tugas guru pembimbing atau konselor dalam proses bimbingan dan konseling pada setiap awal semester.
  7. Menyiapkan surat pernyataan melakukan kegiatan bimbingan dan konseling sebagai bahan usulan angka kredit bagi konselor.
  8. Mengadakan kerjasama dengan instansi lain yang terkait dengan pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling.
  9. Melaksanakan layanan bimbingan dan konseling terhadap 40 siswa bagi kepala sekolah yang berlatar belakang pendidikan bimbingan dan konseling.

 

  1. Wakil Kepala Sekolah

Bertugas membantu kepala sekolah dalam hal:

  1. Mengkoordinasi pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling kepada semua personil sekolah
  2. Melaksanakan kebijakan pimpinan sekolah terutama dalam pelaksanaan layanan  bimbingan dan konseling
  3. Melaksanakan bimbingan dan konseling terhadap minimal 75 siswa, bagi wakil kepala sekolah yang berlatar belakang pendidikan bimbingan dan konseling.

 

  1. Koordinator Guru Pembimbing (Konselor)
    1. Mengkoordinasikan para guru pembimbing ( konselor ) dalam :

1)     Memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling

2)     Menyusun program

3)     Melaksanakan program

4)     Mengadministrasikan kegiatan bimbingan dan konseling

5)     Menilai program

6)     Mengadakan tindak lanjut

  1. Membuat usulan kepada kepala sekolah dan mengusahakan terpenuhinya tenaga, sarana dan prasarana.
  2. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling kepada kepala sekolah.

 

  1. Guru Pembimbing (Konselor)
    1. Memasyarakatkan kegiatan bimbingan dan konseling
    2. Merencanakan program dan melaksanakan persiapan kegiatan bimbingan dan konseling.
    3. Melaksanakan layanan pada berbagai bidang bimbingan terhadap sejumlah siswa yang menjadi tanggung jawabnya.
    4. Melaksanakan kegiatan pendukung layanan bimbingan dan konseling
    5. Mengevaluasi proses dan hasil kegiatan layanan bimbingan dan konseling
    6. Menganalisis hasil evaluasi dan melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil analisis evaluasi
    7. Mengadministrasikan kegiatan bimbingan dan konseling, serta mempertanggungjawabkan tugas dan kegiatan kepada koordinator guru pembimbing.

 

  1. Guru Mata Pelajaran
    1. Membantu memasyarakatkan layanan bimbingan dan konseling kepada siswa.
    2. Melakukan kerjasama dengan guru pembimbing dalam mengidentifikasi siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling.
    3. Mengalihtangankan siswa yang memerlukan bimbingan kepada guru pembimbing.
    4. Mengadakan upaya tindak lanjut layanan bimbingan
    5. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh layanan bimbingan dan konseling dari guru pembimbing.
    6. Membantu mengumpulkan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian layanan bimbingan.
    7. Ikut serta dalam program layanan bimbingan.
    8. Berpartisipasi dalam kegiatan pendukung seperti konverensi kasus dan
    9. Berpartisipasi dalam upaya pencegahan munculnya masalah siswa dalam pengembangan potensi.

 

  1. Wali Kelas
    1. Membantu guru pembimbing melaksanakan layanan yang menjadi tanggung jawabnya
    2. Membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa, khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya, untuk mengikuti layanan bimbingan
    3. Memberikan informasi tentang siswa di kelas yang menjadi tanggung jawabnya untuk memperoleh layanan bimbingan
    4. Menginformasikan pada guru mata pelajaran tentang siswa yang perlu diperhatikan khusus
    5. Ikut serta dalam konferensi kasus.

 

  1. Staf Tata Usaha/Administrasi
    1. Membantu guru pembimbing dan koordinator dalam mengadministrasikan seluruh kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah.
    2. Membantu mempersiapkan seluruh kegiatan bimbingan dan konseling.
    3. Membantu menyiapkan sarana yang diperlukan dalam layanan bimbingan dan konseling.
    4. Membantu melengkapi dokumen tentang siswa seperti catatan kumulatif siswa.

 

  1. J.      Perananan Guru dalam Bimbingan dan Konseling

Menurut Darmohajo (1982) sehubungan dengan kualifikasi dan tugas guru, maka guru mengembankan sekurang-kurangnya tiga tugas pokok, sebagai berikut:

1.         Tugas profesional, yaitu tugas yang berkenaan dengan profesinya.

2.         Tugas manusiawi, yaitu tugasnya sebagai manusia.

3.         Tugas kemasyarakatan, yaitu tugas gguru sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang abik, sesuai dengan kaidah-kaidah menurut Pancasila dan UUD 1945, serta GBHN.

Dalam kedudukannya sebagai personil pelaksana program pembelajaran disekolah, guru memiliki posisi yang strategis dibandingkan guru pembibing dan konselor, misalnya guru lebih sering berinteraksi dengan siswa secara langsung. Guru dapat mengamati secara rutin tentang perkembangan kepribadian siswa, kemjuan belajarnya dan bukan tidak mungkin akan langsung berhadapan dengan permasalahn siswa.

Ada beberapa jenis peranan guru di antaranya adalah :

  1. Guru sebagai mediator kebudayaan.
  2. Guru sebagai mediator dalam belajar.
  3. Guru sebagai pembimbing.

Sehubungan dengan peranan guru sebagai pembimbing, maka seorang guru harus:

  1. Mengumpulkan data tentang murid.
  2. Mengamati tingkah laku murid dalam situasi sehari-hari.
  3. Mengenal murid-murid yang memerlukan bantuan khusus.
  4. Mengadakan hubungan pertemuan dan hubungan dengan orangtua murid, baik secara individual maupun secara kelompok untuk memperoleh saling pengertian dalam pendidikan anak.
  5. Bekerja sama dengan masyarakat dan lembaga-lembaga lainnya untuk membantu memecahkan masalah murid.
  6. Membuat catatan pribadi murid serta menyiapkannya dengan baik.
  7. Menyelenggrakan bimbingan kelompok atau individual.
  8. Bekeja sama dengan petugas-petugas BK.
  9. Bersama-sama dengan petugas BK menyususn program bimbingan sekolah.
  10. Meneliti kemajuan murid baik di sekolah maupun di luar sekolah.
  11. Guru sebagai mediator antara sekolah dan masyarakat.
  12. Guru sebagai penegak disiplin.
  13. Guru sebagai anggota suatu profesi.

Apabila dirinci ada beberapa peranan yang dapat dilakukan oleh seorang guru ketika ia diminta mengambil bagian dalam penyelenggaraan program bimbingan dan konseling di sekolah, antara lain:

  1. Guru sebagai informator

Seorang guru dalam kinerjanya dapat berperanan sebagi informator, terutama berkaitan dengan tugasnya membantu guru pembimbing atau konselor dalam memasyarakatkan layanan bimbingan dan konseling kepada siswa pada umumnya. Melalui peranan ini guru dapat menginformasikan sebagai hal tentang layanan bimbingan dan konseling, tujuan, fungsi dan manfaat bagi siswa.

 

  1. Guru sebagai fasilitator

Guru dapat berperan sebagai fasilitator terutama ketika dilangsungkan layanan pembelajaran baik itu yang bersifat preventif atau kuratif. Dibandingkan guru pembimbing, guru lebih memahami tentang keterampilan belajar yang perlu di kuasai siswa dalam mata pelajaran yang di ajarkan. Maka pada saat siswa mengalami kesulitan belajar, guru dapat merancang program perbaikan (reamidial teaching) dengan mempertimbangkan tingkat kesulitan yang dialami dan menyasuaikan dengan gaya belajar siswa. Sebalikanya bagi siswa yang pandai guru dapat memprogramkan tingkat lanjut berupa kegiatan pengayaan (erichment).

 

  1. Guru sebagai mediator

Guru sebagi mediator dalam kedudukannya yang strategis, yakni berhadapan langsung dengan siswa, guru dapat berperan sebagai mediator, antara siswa dengan guru pembimbing. Hal ini tampak pada misalnya ada seorang guru diminta untuk melakukan kegiatan identifikasi siswa yang memerlukan bimbingan dan pengalitanganan siswa yang memerlukan bimbingan dan koseling kepada guru pembimbing atau konselor sekolah.

 

  1. Guru sebagai motivator

Dalam peranan ini, guru dapat berperan sebagai pemberi motivator siswa dalam memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling disekolah, sekaligus memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh layanan konseling, misalanya pada saat siswa seharusnya mengikuti pelajaran di kelas.tanpa kerelaan guru dlam memberi kesempatan kepada siswa menerima layanan, layanan konseling perorangan akan sulit terlaksana mengingat terbatasnya jam khusus bimbingan dan sekolah sekolah kita.

 

  1. Guru sebagai kolaborator

Sebagi mitra seprofesi yakni sama sebagai tenaga pendidik disekolah, misalnya sebagai dalam penyelenggaraan sebagai jenis layanan orientasi informasi, layanan pembelajaran atau dalam pelaksanaan kegiatan pendukung seperti konferensi kasus, himpunan data dan kegiatan lainnya yang relevan.

 

  1. K.    Peranan Bimbingan dan Konseling dalam Pembelajaran Siswa

Dalam proses pembelajaran siswa setiap guru mempunyai keinginan agar semua siswanya dapat memperoleh hasil belajar yang baik dan memuaskan. Harapan tersebut seringkali kandas dan tidak bisa terwujud, karena banyak siswa tidak seperti yang diharapkan. Maka sering mengalami berbagai macam kesulitan dalam belajar. Sebagai petanda bahwa siswa mengalami kesulitan dalam belajar dapat diketahui dari berbagai jenis gejalanya seperti dikemukakan Abu Ahmadi (1977) sebagai berikut:

  1. Hasil belajarnya rendah, dibawah rata-rata kelas
  2. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukannya.
  3. Menunjukkan sikap yang kurang wajar, suka menentang, dusta, tidak mau menyelesaikan tugas-tugas dan sebagainya.
  4. Menunjukkan tingkah laku yang berlainan seperti suka membolos, suka mengganggu dan sebagainya.

Dalam kondisi sebagaimana dikemukakan diatas, maka bimbingan dan konseling dapat memberikan layanan dalam (1) bimbingan belajar, (2) bimbingan sosial, (3) bimbingan dalam mengatasi masalah-masalah pribadi.

  1. Bimbingan Belajar

Bimbingan ini dimaksudkan untuk mengatasi masalah-masalah yang berhubungan dengan kegiatan belajar baik di sekolah maupun di luar sekolah.Bimbingan ini antara lain meliputi:

  1. Cara belajar, baik secara kelompok ataupun individual
  2. Cara bagaimana merencanakan waktu dan kegiatan belajar
  3. Efisiensi dalam menggunakan buku-buku pelajaran
  4. Cara mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan mata pelajaran tertentu
  5. Cara, proses dan prosedur tentang mengikuti pelajaran

 

Di samping itu Winkel (1978) mengatakan bahwa layanan bimbingan dan konseling mempunyai peranan penting untuk membantu siswa, antara lain dalam hal:

  1. Mengenal diri sendiri dan mengerti kemungkinan-kemungkinan yang terbuka lagi mereka, baik sekarang maupun yang akan datang
  2. Mengatasi masalah pribadi yang mengganggu belajarnya. Misalnya masalah hubungan muda-mudi, masalah ekonomi, masalah hubungan dengan orang tua/keluarga dan sebagainya.

 

  1. Bimbingan Sosial

Dalam proses belajar dikelas siswa juga harus mampu menyesuaikan diri dengan kehidupan kelompok. Bimbingan sosial ini dimaksudkan untuk membantu siswa dalam memecahkan dan mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan masalah sosial, sehingga terciptalah suasana belajar mengajar yang kondusif. Menurut Abu Ahmadi (1977) bimbingan sosial ini dimaksudkan untuk:

  1. Memperoleh kelompok belajar dan bermain yang sesuai
  2. Membantu memperoleh persahabatan yang sesuai
  3. Membantu mendapatkan kelompok sosial untuk memecahkan masalah tertentu

 

  1. Bimbingan dalam Mengatasi Masalah Pribadi

Bimbingan dimaksudkan untuk membantu siswa dalam mengatasi masalah-masalah pribadinya, yang dapat mengganggu kegiatan belajarnya. Siswa yang mempunyai masalah dan belum dapat diatasi/ dipecahkannya, akan cenderung mengganggu konsentrasinya dalam belajar, akibatnya prestasi belajar yang dicapai rendah. Dalam kurikulum SMA tahun 1975 buku III C tentang pedoman bimbingan dan penyuluhan. Menurut Ibu St. Raf’ah ada beberapa masalah pribadi yang memerlukan bantuan konseling yaitu masalah akibat konflik antara lain:

a.            Perkembangan intelektual dengan emosionalnya

b.            Bakat dengan aspirasi lingkungannya

c.            Kehendak siswa dengan orang tua atau lingkungannya

d.            Kepentingan siswa dengan orang tua atau lingkungannya

e.            Situasi sekolah dengan situasi lingkungan

f.            Bakat pendidikan yang kurang bermutu dengan kelemahan/keengganan mengambil pilihan.

 

Masalah-masalah pribadi ini juga sering ditimbulkan oleh hubungan muda-mudi. Selanjutnya juga dikemukakan oleh Downing (1968) bahwa layanan bimbingan di sekolah sangat bermanfaat, terutama membantu:

  1. Menciptakan suasana hubungan sosial yang menyenangkan
  2. Menstimulasi siswa agar mereka meningkatkan partisipasinya dalam kegiatan belajar mengajar
  3. Siswa agar dapat menciptakan atau mewujudkan pengalaman belajarnya itu penuh arti
  4. Meningkatkan motivasi belajar siswa
  5. Menciptakan dan menstimulasi tumbuhnya minat belajar.

 

  1. L.     Kegiatan dalam Manajemen Bimbingan dan Konseling

Manajemen bimbingan konseling di sekolah oleh Muri (2008:4) mencakupi kegiatan perencanaan kegiatan BK yang akan dilaksanakan, pengorganisasian (pengaturan dan pengalokasian kerja, wewenang, dan sumber daya dalam unit BK), pelaksanaan rencanakegiatan, dan pengawasan/kontrol dan pengendalian kegiatan bimbingan konseling (menurut bidang dan jenis layanan konseling), dengan mengatur konselor dan sumber daya lainnya sehingga dapat membantu pengembangan individu secara optimal baik di sekolah maupun di luar sekolah. Keenam komponen atau sumber daya sebagaimana tersebut di atas tadi hendaknya difungsionalkan dalam menata dan mengelola perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan/ pengendalian kegiatan bimbingan konseling.

Adapun masing-masing kegiatan dalam memenejemen kegiatan bimbingan konseling itu menurut Muri (2008:6) adalah sebagai berikut:

  1. Perencanaan Program

Menurut A. Muri Yusuf (2008,6) Perencanaan diawali dengan melakukan need assessment kebutuhan siswa dan sekolah, hingga dijumpai skala prioritas bidang-bidang dan jenis layanan konseling yang sangat dibutuhkan, dibutuhkan, dan jarang dibutuhkan pada kelas dan tahun tertentu. Sumber daya yang dapat diberdayakan dalam penyusunan program dapat terdiri dari kepala sekolah, koordinator BK, konselor, wali kelas, guru mata pelajaran, dengan tetap memperhatikan kebijakan dan peraturan yang berlaku dan kebutuhan sekolah. Perencanaan program juga hendaknya memperhatikan fasilitas yangtersedia di sekolah.Adapun muatan yangdapat dijabarkan dalam kerangka perencanaan memuat sekurang-kurangnya tujuan, sasaran, indikator keberhasilan, program yang ditawarkan, pelaksana, waktu pelaksanaan, dan skala prioritas.

 

  1. Pengorganisasian

Pengorganisasian adalah kegiatan membagi-bagi tugas pada orang yang terlibat dalam kerjasama .prinsip nya terbaginya tugas secara proporsionalGibson (1982) Organizing : semua kegiatan manejerial yang dilakukan utk. Mewujudkan kegiatan yang direncanakan menjadi struktur tugas, wewenang dan menentukan tugas yang akan dilaksanakan. Pengorganisasian yang efektif yakni dapat membagi habis tugas secara merata dan menentukan tugas-tugas ke dalam sub-subkomponen organisasi.

Menurut Saiful Sagala (2000,49), ada 4 Syarat yang harus dipertimbangkan dalam pengorganisasian :

  1. Legtimasi,
  2. Efisiensi
  3. Keefektifan
  4. Keunggulan

Selanjutnya pengorganisasian juga diartikan sebagai pembagian tugas kepada orang-orang yang terlibat dalam kerjasama pendidikan (Saiful Sagala, 2000:49).

 

  1. Pelaksanaan Program

Pelaksanaan program meliputi kegiatan mengerjakan apa-apa yang telah dirumuskandalam rencana kegiatan.Selain itu, pelaksanaan program juga merupakan kegiatan mengarahkan, mempengaruhi, memotivasi semua tenaga kerja yang terlibat dalam kegiatan yang direncanakan, dan penciptaan suasana yang menyenangkan dalam kinerja.

 

  1. Pengawasan dan Pengendalian

Kegiatan controling atau pengawasan program adalah kegiaan yang dilakukanuntuk mengawasi pelaksanaan program yang dijalankan. Menurut Terry and Rue (1996,10) mengatakan bahwa controling adalah kegiatan pengukuran pelaksanaan dengan tujuan-tujuan menetapkan sebab-sebab terjadinya penympangan dan pengambilan tindakan-tindakan korektif dimana perlu.

 


 

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.    Simpulan

Manajemen bimbingan dan konseling merupakan keseluruhan proses aktivitas yang dilakukan oleh sekelompok manusia dalam suatu sistem organisasi bimbingan dan konseling dengan menggunakan segala sumber daya untuk mencapai tujuan secara efisien dan efektif dalam layanan bimbingan dan konseling. Bimbingan amatlah penting peranannya, sebab semakin tinggi dan penting peranannya, berbagai ilmu pengetahuan manusia di dunia, makin bertambahlah masalah-masalah kehidupan manusia dan tata susunan masyarakat. Oleh karena itu, melalui bimbingan siswa kelak dapat menyesuaikan diri setiap keadaan.

Perkembangan kemampuan siswa secara optimal untuk berkreasi, mandiri, bertanggung jawab dan memecahkan masalah merupakan tanggung jawab yang besar dari kegiatan pendidikan. Oleh karena itu, pemahaman potensi pribadi sangat penting untuk perkembangan siswa sebagai manusia yang utuh. Di samping itu, dalam perkembangannya siswa sering kali menghadapi masalah yang tidak mampu dipecahkan sendiri, sehingga menganggu keberhasilan belajarnya.

 

  1. B.     Saran

Untuk membantu proses perkembangan pribadi dan mengatasi masalah yang di hadapi sering kali siswa memerlukan bantuan profesional. Sekolah harus dapat menyediakan layanan profesional yang di maksud berupa layanan bimbingan dan konseling, karena sekolah merupakan lingkungan akan yang penting sesudah keluarga. Perlu pula kepekaan para guru dalam mengatasi siswa yang sedang mengdahapi masalah. Untuk itu, perlu meningkatkan peranan guru dalam proses pelaksanaan bimbingan dan konseling karena hal tersebut sangat penting.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Andriyan. 2013. Makalah Bimbingan dan Konseling. http://superiandriyan.blogspot.com/2013/04/makalah-bimbingan-dan-konseling.html (diakses pada tanggal 16 Juni 20s13 pukul 16:25 WIB).

Ardi. 2012. Pengertian Manajemen Bimbingan dan Konseling. http://ardieakhiry.blogdetik.com/2011/12/29/pengertian-manajemen-bimbingan-dan-konseling/

Parhan. 2012. Manajemen Bimbingan dan Konseling. http://sanlombok.blogspot.com/2012/12/manajemen-bimbingan-konseling.html

Sanlombok.2012. Kerjasama Guru BK dengan Guru Mata Pelajaran Dalam DKB. http://sanlombok.blogspot.com/2013/01/kerjasama-guru-bk-dengan-guru-mata.html

Susilowaty, Karunia Yeni. 2012. Makalah Manajemen Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. http://my.opera.com/karuniayenisusilowaty/blog/2012/11/12/makalah-manajemen-program-bimbingan-dan-konseling-di-sekolah

Umam. 2012. Makalah Manajemen dan Bimbingan Konseling di Sekolah. http://khotibulumam777.blogspot.com/2012/06/makalah-manajemen-bimbingan-dan.html

Yuliani, Ira. 2013. Pengertian Manajemen Bimbingan dan Konseling. http://inimaterikuliahku.blogspot.com/2013/03/pengertian-manajemen-bk.html

Yuliani, Ira. 2013. Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling. http://inimaterikuliahku.blogspot.com/2013/02/prinsip-prinsip-bimbingan-dan-konseling.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>